WAYANG DAN TASAWUF JAWA I

Posted: April 28, 2011 in Uncategorized

pandawa

FUNGSI WAYANG: sebagai tonotnan dan tuntunan

Pertunjukan bayang-bayang di indonesia telah berlangsung sejak tahun 1500 SM sebagai sarana untuk memuja dan mendatangkan arwah leluhur. Roh nenk moyang itu, disebut hyang atau dahyang, dapat diminta untuk member bantuan dan perlindungan, namun roh dapat pula mencelakakan dan mengganggu orang. Oleh karena itu roh harus senantiasa dipuja-puja. Para hyang diwujudkan dalam gambar atau patung, dan dipimpin oleh sang hyang. Dengan demikian tokoh puncak wayang adalah arwah para leluhur.

Bangsa hindu menggunakan wyang untuk menyebarkan agama lewat erita Ramayana, mahakarya walmiki sekitar 1000 tahun SM- setebal 24.000 bait, dan mahabarata, mahakarya wiyasa 700-600 SM- setebal 100.000 bait. Tokoh puncak dalam pewayangan , sang hyang digantikan oleh syiwa atau betara guru namun, dengan beberapa penyesuain dengan budaya setempat. Misalnya, sebagai manusia biasa, guru bukanlah makhluk yang sempurna, ia sering berbuat salah, dan tidak selalu dapat mengendalikan nafsunya. Oleh karena itu di atas guru masih ada sang hyang wenang.

Tokoh panakawan adalah asli indonesia dan tidak terdapat dalam versi india. Mereka adalah rakyat biasa namun dapat mengalahkan raja bahkan dewa sekalipun, kalau para raja atau dewa itu menyimpang. Sebelum diperintahkan turun dari mayapada ke marcapada, togog dan semar adalah dewa, kakak sekandung betara guru.

Untuk memilih siapa  yang berhak menjadi raja kahyangan telah diadakan sayembara diantara mereka bertiga, yaitu “barang siapa yang dapat menelan dan memuntahkan kembali gunung jamurdipa maka dialah yang berhak menjadi raja.” Betara antaga atau togog (anak sulung) mencoba tapi gagal menelannya bahkan sampai mulutnya terobek lebar. Batara ismaya atau semar (penenggak) berhasil menelan tapi tidak dapat memuntahkan kembali sehingga perutnya besar menggembol gunung. Karena sarana sayembara telah hilang tertelan, maka betara guru (betara manikmaya) dengan sendirinya terpilih menjadi raja jungring salaka di langit sap pertama*.

Setelah gagal menduduki tahta jurngring salaka, togog dan semar diharuskan turun ke bumi untuk momong, mengasuh dan membina manusia. Mereka mempunyai suci untuk memberikan nasehat agar kebenaran selalu dapat ditegakkan dan ditaati di dunia. Togog mengabdi pada pihak simpingan kiwa yang senantiasa mengabaikan nasehatnya, sedangkan semar mengabdi pada pihak simpingan tengen yang hanya kadang-kadang saja mengabaikan nasehatnya.

Tokoh tertinggi wayang** adalah sang hyang wenang bertempat di kahyangan ondar-andir, di langit sap ketiga. S.H. wenang meminta sang hyang rekatatama, yuyu raksasa dan masih kepernah eyang samping, untuk mengisi dunia dengan makhluk yang sempurna. Mahkluk tersebut harus mempunyai tiga watak, yaitu watak dewa, watak jin dan watak hewani. Untuk maksud itu S.H wenang mencipta dewi ratnawati (jin) guna dijodohkan dengan S.H rekatatama (hewan). Perkawinan mereka membuahkan seorang putrid yakni dewi wiranti. Sedangkan gumpalan daging yang lahir bersamanya, dipuja menjadi seorang putrid, yaitu dewi uma.

Sang hyang tunggal***, anak S.H wenang, bertempat tinggal di kahyangan alang-alang kumitir, di langit sap kedua. Sebagai lazimnya para dewa, S.H tunggal tidak mempunyai nafsu, tetapi berkat rangsangan dewi wiranti, yang turunan hewan, ia dapat bercinta. Akibatnya dewi wiranti bisa hamil , namun kemudian yang dilahirkan adalah sebutir telur, bukan seorang bayi. Telor yang gemerlapan memancarkan sinar tersebut , setelah disidhikara oleh S.H wenang pecah menjadi tiga bagian , kulitnay menjadi betara antaga, putihnya betara ismaya, dan kuningnya betara manikmaya.

Peranan para wali dan pujangga jawa

Oleh para wali dan pujangga jawa wayang dibesut sehingga selain merupakan saraana hiburan yang menarik (tontonan), juga dapat dipakai sebagai sarana komunikasi massa dan dakwah agama islam (tuntunan). Pada waktu itu sunan giri adalah pimpinan golongan mutihan, yang tidak begitu berkenan dengan langkah kebijaksanaan ini. Oleh karenanya , walaupun sangat berperan dalam  member warna dan unsure islam dalam wayang adalah sunan kalijaga, namun sunan giri ditempatkan sebagai yang menatanya, shan hyang giri nata gelar lain dari betara guru, rajanya para dewa.

Untuk menghilangkan kemusyrikan, sunan kalijaga dan para wali lainnya mengadakan perubahan substansial. Misalnya bentuk atau seni rupa wayang yang semula seperti relief wayang di candi-candi dirubah menjadi tidak seperti manusia wayang beber , yang gambarnya berupa manusia dan setiap adegan di beber pada sebuah kulit juga mengalami perubahan. Lukisan yang madhep ngarep itu dirubah menjadi madhep miring, dan dibuat peraga wayang terpisah untuk setiap tokoh . walaupun bentuknya tidak proporsional, panjang tangannya hamper sampai ke ujung kaki, namun wayang tetap saja wangun dan menarik.

Gunungan atau kayon mempunyai lukisan sebuah pohon kalpataru (dewandaru) lambing pohon kehidupan . kayon, yang semula melambangkan sumber pengetahuan pengayom , dan sumber kehidupan ini dirubah artinya oleh para wali . kayon atau khyyun dalam bahasa arab yang bermakna hidup , diartikan sebagai gambaran simbolis dari kubah mesjid , dan bila dijungkirkan akan menyerupai jantung manusia. Hal ini mengandung falsafah islam yang mengatakan bahwa kehidupan umat islam , jantung hatinya harus berada di mesjid . api yang sedang menyala dilukiskan di balik kayon, merupakan sengkalan “geni dadi sucining jagad” artinya tahun 1443. Pada tahun inilah untuk pertamakalinya kayon dibuat oleh sunan kaljaga.

Bahkan semar dikatakan beraal dari bahasa arab   amar yang berarti perintah, sedangkan petruk dari faruk yang berarti perintah untuk ditinggalkan. Dengan demikian semar dan petruk merupakan manifestasi dari amar makruf nahi munkar. Nala gareng dari kata nala qorin atau memperoleh banyak kawan yang akan sangat berguna untuk menyebarkan agama. Bagong berasal dari baghaa yang berarti berontak dalam menghadapi ketidakadilan pada umumnya, menghadapi VOC pada khususnya.

Keluarga pendawa dapat pula dihubungkan dengan kewajiban islam yang lima seperti terlukis

Puntadewa dihubungkan dengan syahadat . ia sabar dan pengasih , selalu mengabulkan permintaan orang, bahkan isteri dan nyawanya pun akan diberikan bila diminta. Ia mempunyai pusaka kalimasada yang bertuliskan  kalimah syahadah.

Bima dihubungkan dengan shalat, mukanya selalu menunduk seperti orang yang shalat. Ia tidak melayani orang lain jika pekerjaannya sendiri belum selesai , isyarat bahwa shalat tidak boleh di batalkan.

Arjuna dihubungkan dengan puasa, jiwanya teguh dan gemar bertapa. Walaupun berparas tampan , namun ia selalu berpenampilan sederhana. Untuk berbuat sederhana tetapi indah, memerlukan pengekangan hawa nafsu yang kuat.

Nakula dihubungkan dengan zakat, ibarat orang yang senang mengeluarkan zakat karena giat bekerja.

Sadewa dihubungkan dengan haji. Menggambarkan orang yang mampu melakukan ibdah haji karena hartanya cukup , terpenuhi sandang pangannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s